Indonesian Idol telah mempunyai juara baru, yaitu Januarisman atau yang lebih akrab dipanggil Aris. Aris adalah seorang pengamen. Dengan hasil recehan yang dikumpulkan setiap hari dari mengamen Aris menafkahi istri dan anaknya. Aris berangkat menuju tempatnya mulai mengamen sekitar pukul 1 siang dan baru pulang pukul 9 malam. Siapa yang mengira kalau seorang pengamen bisa menjadi idola? Bagi beberapa orang banyak yang mengatakan kalau kenyataan itu adalah sebuah takdir, atau memang sudah nasibnya si Aris menjadi Indonesian Idol.
Percayakah anda akan takdir dan nasib? Sewaktu saya interview di sebuah perusahaan, saya ditanya, “Percayakah anda akan nasib?”, saya menjawab “Tidak” dengan kagetnya dia melanjutkan pertanyaannya dengan nada yang meninggi, “Jadi anda tidak percaya bahwa orang miskin itu sudah merupakan nasib mereka yang telah ditentukan Tuhan?”, saya jawab kembali “Tidak, karena saya yakin sekali Tuhan tidak akan membuat umatnya menderita, mereka miskin bukan karena Tuhan menginginkan mereka miskin tetapi karena mereka sendiri yang tidak mau berusaha keluar dari kemiskinan atau sudah mencoba tetapi lingkungan mereka memaksa mereka untuk tetap miskin.” Sudah bisa dipastikan, saat itu juga saya ditolak bekerja di perusahaan itu. Mungkin untuk hal-hal lain, saya bisa mengarangnya, tetapi mengenai hal yang ini, sangat mutlak buat saya.
Apa jadinya kalau si Aris mempunyai keyakinan dengan pewawancara tadi? Apa jadinya Ir. Ciputra bosnya property mempunyai keyakinan seperti itu juga? Mungkin saat ini mereka masih menderita dan berharap dari uang recehan dan belas kasih orang lain. Mereka hanya akan terkurung di dalam penjara kepasrahan dan hanya meyakini bahwa hanya nasiblah yang dapat merubahnya, mereka hanya pasrah bahwa waktu akan menjawab semua ini.
Saya berkeyakinan bahwa Tuhan telah memberikan kita otak untuk kita gunakan. Seperti kata Galileo, jika Tuhan tidak ingin kita pakai otak, kenapa dia kasih kita otak? Tuhan memberi kita kepintaran, dia pastinya ingin kita pakai itu. Betapa kejamnya Tuhan kalau dia telah menggariskan hidup seseorang semenjak mereka di dalam kandungan, menyuruh umatnya untuk berdoa dengan sungguh-sungguh tapi pada akhirnya Dia akan melakukan apa yang Dia suka, ini sama saja kita meminta kepada tembok dan hanya sia-sia yang didapat. Seberapa banyak penghargaan yang layak diberikan pada hakim yg membuat keputusan lebih dahulu baru kemudian mendengarkan dengan sabar para saksi-saksi?
Tuhan memberi kita manusia kemampuan rasional untuk membedakan benar dan salah, untuk memilih yang baik dan menjauhkan dari yang jahat. Kita sendiri yang bisa menentukan nasib atau pun takdir kita, berusahalah untuk yang terbaik dan percaya bahwa Tuhan menyertai kita. Siapa yang berbuat kebaikan dia akan menuai kebaikan, siapa yang berbuat kejahatan dia akan menuai kejahatan.
-freedom, equality and brotherhood-





