Pemilu 2009 nanti akan diikuti oleh 34 partai politik (parpol), dimana 18 diantaranya merupakan parpol baru. Ini merupakan pemilu yang ke tiga setelah roda reformasi digulirkan dan juga merupakan kali ke tiga rakyat Indonesia dibodohi dengan janji-janji reformasi. Kampanye telah dimulai, setiap parpol telah mempersiapkan strategi untuk menarik simpati masyarakat yang diharapkan dapat memberikan suaranya ketika pemilu nanti. Setiap juru kampanye bisa dipastikan mengeluarkan janji-janji manis seperti pendidikan gratis, penegakan HAM, mengentaskan kemiskinan dan janji-janji lain yang dapat membuat masyarakat menaruh harapan.
Di perkampungan rumah saya banyak sekali dihiasi bendera dan umbul-umbul parpol, terutama parpol-parpol baru contohnya Partai HANURA. Ada terlintas di pikiran saya bahwa rakyat miskin merupakan objek yang paling bagus untuk di propaganda dengan iming-iming yang menggiurkan, dengan bermodalkan kaos parpol dan panggung dengan hiburan musik dangdut jadilah kampanye sebuah parpol akan dibanjiri massa. Semua parpol mengatasnamakan kepentingan rakyat, tetapi setelah parpolnya menjadi pemenang pemilu, kepentingan rakyat hanyalah menjadi nomor ke sekian untuk diperjuangkan.
Menurut saya, kalau menjadi pengurus ataupun aktivis dari sebuah partai dikarenakan ingin mendapatkan penghasilan yang besar serta fasilitas yang “WAH” tetapi bukan karena didasari oleh panggilan hati nurani untuk kemajuan bangsa dan negara dengan rakyat yang sejahtera, maka sampai kapanpun rakyat Indonesia tidak akan keluar dari penderitaannya.
Saya hanya bisa mentertawai semua parpol yang berkampanye, terutama melalui iklan di televisi dan lagi-lagi rakyat miskinlah dengan segala kekurangannya yang dijadikan objek menjual. Tidak ada jaminan yang bisa diberikan parpol-parpol itu jikalau mereka menang akan menepati janji-janjinya selama kampanye, ingatlah pengalaman-pengalaman yang lalu, lihatlah wakil-wakil rakyat di DPR dengan segala kemewahannya, apakah mereka akan melepaskan jabatannya di saat mereka gagal memperjuangkan rakyat?
Jadilah golput! Kalau ada yang bilang menjadi golput bukan warga negara yang baik, saya lebih baik dibilang seperti itu daripada saya harus memilih dengan tangan saya sendiri orang-orang yang akan menjadi penindas berikutnya.
Karena hanya ada kecap No. 1 !
-freedom, equality and brotherhood-






GOLPUT bukan hanya pilihan, namun GOLPUT ADALAH KEWAJIBAN !!!!