Piala Eropa 2008 sudah bergulir dan saat ini memasuki babak perempatfinal, ada hal yang menarik saat saya menonton setiap pertandingannya, kalau kita perhatikan di lengan sebelah kiri seragam para pemain dan wasit ada kata “Respect“, lalu board iklan di pinggir lapangan juga ada kata-kata “No to Racism“, slogan-slogan ini sangat berarti untuk sebuah sportivitas seperti pertandingan sepak bola dan sejauh ini slogan tersebut berhasil diterapkan pada setiap pertandingan di Piala Eropa 2008.
Kita tinggalkan sejenak Piala Eropa untuk menengok sepak bola di Tanah Air. Sepertinya kekerasan tidak pernah berhenti dalam dunia sepak bola Tanah Air, kalau tidak pemainnya yang saling baku hantam, wasitnya yang dipukuli atau perkelahian antar suporter, dan alasannya pun beragam. Saya sering menyaksikan pertandingan sepak bola di TV terutama Liga Inggris, para penontonnya tertib semua, di barisan terdepan tempat duduk disediakan buat orang cacat dan manula, tidak ketinggalan juga wanita-wanita cantik banyak menghiasi di antara penonton. Miris dan tentunya iri juga kalau melihat fasilitas lengkap dan kesadaran penonton yang seperti ini.
Banyak faktor yang bisa mempengaruhi kekerasan dalam persepakbolaan kita, seperti kurang tegas atau kurang pengetahuannya para pengadil di lapangan lalu sikap para pemain sendiri yang ber “mental tempe” sehingga mudah sekali terpancing emosi, dan tidak juga ketinggalan dari sikap para “pemain ke-12″ itu sendiri dimana sering memancing dan terpancing emosi. Tapi sejauh ini yang saya tahu, solusi-solusi dari pihak yang berwenang hanya sebatas wacana saja buktinya kekerasan-kekerasan masih saja sering terjadi, bahkan kekerasan terakhir antara suporter Persija dan Papua menyebabkan kematian suporter Persija.
Saya, anda dan kita seluruh pecinta sepak bola di Tanah Air pastinya ingin merasakan suasana pertandingan seperti di Liga Inggris di mana menonton sepak bola bisa sekaligus dijadikan ajang rekreasi hiburan bagi keluarga, hiburan bagi saudara-saudara kita yang cacat dan jompo dimana tidak ada lagi ketakutan-ketakutan menonton sepak bola secara langsung di stadion. Kita tidak bisa hanya mengandalkan dan menunggu pihak berwenang melakukan perbaikan dan perubahan supaya persepakbolaan kita jauh dari kekerasan, tapi kita harus membangun dan menanamkan kesadaran dalam diri kita sendiri dulu bahwa kekerasan-kekerasan yang terjadi hanya akan merugikan kita dan persepakbolaan Tanah Air sehingga bisa berdampak pada hilangnya kesempatan Tim Merah Putih kita berajang di pentas yang lebih tinggi.
Semoga slogan “Respect” dan “No to Racism” juga dapat menjadikan persepakbolaan Indonesia lebih maju, jauh dari kekerasan serta bisa jadi ajang rekreasi bagi kita semua, sehingga ajakan “Nonton bola yuk,,,!” tidak lagi ditanggapi secara pesimis. Majulah Sepak Bola Indonesia!!!
-freedom, equality and brotherhood-






gmn mau maju, apalagi sportif?! wong pucuk pimpinan nya aja BAJINGAN ngga tau malu tukang tilep duit minyak goreng untuk rakyat miskin!
gantung nurdin !!!