Indonesia terkenal dengan keragaman suku, budaya, agama, dan ras, masing-masing orang pasti memiliki kebanggaan akan hal itu. Kondisi seperti ini sangat rentan dengan konflik dan kekerasan, sudah banyak contoh yang terjadi misalnya kasus di Poso, Ambon, Sampit dan yang baru-baru ini terjadi dan semakin meruncing adalah perseteruan antara massa FPI dan massa NU di daerah-daerah yang merupakan reaksi dari apa yang terjadi di Monas beberapa hari lalu. Hal ini bisa terjadi dikarenakan masing-masing pihak memiliki fanatisme, masing-masing pihak merasa dirinya atau kelompoknyalah yang paling benar dan dimana seseorang ataupun kelompok sudah memiliki fanatisme seperti ini maka kekerasanlah yang menjadi jawabannya. Mahatma Gandhi ( 1869-1948 ) pernah mengatakan, Kekerasan adalah senjata (orang/bangsa/manusia) yang jiwanya lemah. Kelemahan jiwa merupakan kelemahan sejati. Setiap kekerasan dalam konstruksi sosial masyarakat selalu hanya akan melahirkan kekerasan lanjutan. (TERBUKTI! -pen.)
Berteori atau berbicara memang mudah tetapi dalam prakteknya dapat bertolak belakang , banyak orang yang berteriak-teriak tentang perdamaian tetapi saat harga dirinya atau ideologinya dihina mereka tidak sungkan-sungkan untuk melakukan kekerasan kepada orang ataupun kelompok lain. Memang harus ada yang dikorbankan, tetapi bukan orang lain yang harus dikorbankan melainkan diri kita sendiri yang harus dikorbankan, bukan orang lain yang menderita tetapi kita yang harus menderita. Jika tiap-tiap individu ataupun kelompok bisa saling menjaga emosi dan kerelaan untuk menderita, diharapkan kekerasan bisa dihapus di muka bumi, memang ini terdengar utopia tapi mungkin inilah cara yang bisa diterapkan di saat cara dialog sudah menemui jalan buntu. Kita juga harus menjauhkan dari jalan yang sesat dengan cara sabar dan simpati, karena sesuatu yang dipandang benar oleh seseorang atau kelompok mungkin dipandang sebagai kekeliruan oleh orang atau kelompok lain, jangan lupa juga kita harus menjunjung tinggi aturan emas yaitu jangan melakukan kepada orang lain apa yang tidak mau orang lain lakukan kepada kita.
Jika tidak ada aral melintang pada tanggal 5 April 2009 Indonesia kembali akan melaksanakan Pemilu, partai-partai sudah mempersiapkan diri untuk ikut dalam meramaikan pesta demokrasi itu. Kondisi politikpun sudah mulai menghangat, intensitas kritik di antara pimpinan partai sudah mulai meningkat dan hal ini positif sekali karena diharapkan dengan kritik setiap calon pemimpin dapat memperbaiki dirinya. Pada Pemilu yang digelar pada tahun 1999 dan 2004 lalu telah terjadi kekerasan di masa kampanye, bentrokan antar massa partai politik, pembakaran fasilitas-fasilitas partai, dan kekerasan politik lainnya sudah menjadi hal yang biasa. Kita sangat mengharapkan sekali pada Pemilu 2009 ini dapat berlangsung dalam suasana damai, meriah dan penuh kebahagiaan layaknya dalam suasana pesta.
Fanatisme terhadap suatu paham hanya akan menghasilkan kekerasan saja, dengan fanatisme kita membutakan hati dan pikiran kita terhadap paham yang lain, di dalam fanatisme kebenaran hanya bersifat subyektif. Pemilu merupakan wujud dari demokrasi dimana setiap warganegara mempunyai hak yang sama untuk memberikan suara kepada wakil-wakilnya di lembaga tertentu, jika kita mengedepankan fanatisme belaka maka yang terjadi adalah keirihatian, kedengkian dan kebencian yang menjadi pemicu tindak kekerasan kepada kelompok lain dan kita melupakan cita-cita demokrasi yang mendambakan persamaan, keadilan dan HAM, disinilah saya melihat korelasinya antara fanatisme, kekerasan dan demokrasi bahwa fanatisme hanya akan melahirkan kekerasan saja dan kekerasan tidak bisa berdampingan dengan demokrasi.
Akankah selamanya kekerasan mewarnai republik ini? Ataukah kita bisa menghilangkannya?
-freedom, equality and brotherhood-






KEREN JUGA NEH TULISAN..KACAU EMANG NEGARA INI
apik kog
Benar, fanatik agama hanya akan membuat kehancuran!