Saat ini sedang marak berita mengenai FPI yang membubarkan secara paksa kegiatan yang dilakukan Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) pada tanggal 1 Juni kemarin di Monas, dalam rangka memperingati hari lahirnya Pancasila. Kejadian ini dilihat sangat ampuh juga untuk mengalihkan perhatian dari protes masyarakat terhadap kenaikan harga BBM, paling tidak berita-berita yang beredar di media. Saya tidak akan mengomentari FPI karena tidak ada gunanya mengomentari mereka justru hanya membuat mereka bangga dengan sikapnya.
Mencoba untuk membandingkan antara sikap yang diambil Polisi saat kejadian yang terjadi di Monas itu dengan yang terjadi di Kampus UNAS, hasilnya sangat bertolak belakang. Di UNAS polisi bertindak represif dengan merangsek ke dalam kampus serta menghakimi para mahasiswa dan menghancurkan fasilitas kampus, di sini terlihat sekali kedigdayaan polisi terhadap mahasiswa, sedangkan pada saat rusuh di Monas polisi tidak melakukan tindakan apapun dan ada terkesan juga polisi membiarkan tindakan FPI, di sini justru FPI yang menunjukkan kedigdayaannya di depan penegak hukum.
Untuk hal ini polisi mempunyai argumen sendiri bahwa polisi tidak menertibkan kejadian itu karena dikhawatirkan justru akan memperkeruh suasana, memperkeruh di sini menurut saya mempunyai arti sama dengan ketakutan, ketakutan untuk menegakkan kebenaran, ketakutan jika anggota FPI ditangkapi maka polisi mempunyai masalah baru.
Apakah polisi tidak mempunyai standar tugas? Ok, bisa dimaklumi kalau polisi tidak mempunyai standar tugas. Tapi yang tidak bisa dimaklumi apalagi dimengerti adalah semboyan polisi yang melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat. Di saat sedang terjadinya kekerasan dan penghancuran demokrasi, polisi tidak mengambil sikap. Polisi telah kehilangan rasa kemanusiaannya, sudah jelas-jelas di depan mata kepalanya terjadi pelanggaran kemanusiaan tetap saja hanya menjadi penonton. Bayangkan saja, di UNAS polisi bisa menangkap lebih dari 100 mahasiswa sedangkan di Monas satupun tidak ada anggota FPI yang ditangkap. Polisi itu seperti robot yang hanya patuh kepada si pemegang remote control, mereka tidak akan bertindak jika tombol tidak ditekan walaupun dia menyaksikan penindasan, rasa kemanusiaan mereka telah dikalahkan oleh sistem. Semboyan yang selama ini mereka banggakan sudah tidak layak lagi.
Kejadian ini justru semakin menambah buruknya track record Kepolisian RI, polisi masih pilih-pilih dalam menindak. Masalah ini jadi pekerjaan rumah bagi Kepolisian RI yang mencita-citakan polisi yang profesional dan mandiri sehingga sesuai dengan semboyannya. Apabila polisi tidak adil dalam bersikap, saya yakin sekali bahwa citra buruk yang selama ini tertanam di hati masyarakat polisi akan tetap terjaga.
-freedom, equality and brotherhood-




