Tadi malam saya menonton Metro Realitas dimana sedang ada pernyataan dari Menteri Keuangan kita Sri Mulyani Indrawati (SMI) mengenai kebijakan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Kurang lebih dia mengatakan bahwa BLT yang diberikan pemerintah sebesar Rp 100.000,-/bulan itu sangat berarti bagi rakyat miskin, beda dengan masyarakat yang biasa mengisi bahan bakar mobilnya sebesar Rp 100.000,- tentu tidaklah ada artinya.
Sepintas pernyataan dia itu memang benar adanya, tetapi kalau dicermati lebih dalam pernyataan SMI ini merupakan fallacy yang tidak lebih hanyalah sebuah pembodohan bagi rakyat kecil. Nominal Rp 100.000,- di saat harga-harga kebutuhan pokok melonjak tinggi seperti saat ini tidaklah ada artinya termasuk bagi rakyat kecil, mungkin nominal ini sangat berarti pada waktu 15 tahun yang lalu di mana harga-harga pokok masih relatif stabil. Lebih parah lagi besarnya nominal BLT ini tidak mengalami penambahan dari sebelumnya yang juga Rp 100.000,-/bulan, logikanya kalau harga-harga kebutuhan naik seharusnya hal ini berbanding lurus dengan BLT yang diberikan. Ini sama saja dengan seorang yang terjebak di kandang macan tapi dia hanya memiliki senapan tanpa ada pelurunya.
Lalu di akhir tayangan ada lagi pernyataan yang mencengangkan, mencengangkan karena justru terlontar dari mulut orang no. 2 di negeri ini, Jusuf Kalla. Dia mengatakan kalau semua kebijakan-kebijakan yang dibuat pemerintah dijamin tidak ada yang merugikan masyarakat dan diulang lagi “SAYA JAMIN!” Dari pernyataan itu dapat ditangkap maksudnya bahwa kebijakan menaikkan harga BBM dan BLTnya ini tidak merugikan masyarakat, apakah saya salah mengartikan hal ini? Kalau memang menaikkan harga BBM merupakan kebijakan yang pro pada rakyat, mengapa gelombang aksi unjuk rasa terus meningkat? Mengapa ada ahli ekonomi berpendapat menaikkan harga BBM ini tidak diperlukan? (http://www.koraninternet.com/web/index.php?pilih=lihat&id=4565)
Sebagai pemimpin negara seharusnya mengeluarkan pernyataan yang menyejukkan hati rakyatnya, pemimpin negara seharusnya mengeluarkan pernyataan yang tegas sehingga tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda di masyarakat.
-freedom, equality and brotherhood-







kalau boleh tau, fallacy apa yang mendera sri mulyani?
Pd saat dia bilang 100rb berarti buat rakyat miskin.
itu si ujup kumisnya pake firdaus kali tuh obat nya, makin gondrong aja! whaahhaha..
sungguh tidak mengherankan.langkah2 yg diambil oleh pemerintah memang tidak pernah berpihak pada rakyat miskin.karena presiden dan pembantu2nya sekarang ini, layaknya pemerintahan boneka yang digerakkan oleh IMF,world bank dan entah lembaga keuangan dunia mana lagi.jadi jangan pernah pernah berharap boneka bisa bergerak sendiri tanpa diminta tuannya….
jangan dong kita selalu mencela pemerintah, tulisan-tulisan seperti ini sangat berbahaya karena dapat membuat wibawa pemerintah jatuh, kalau mau menasehati beliau2 jangan di tempat umum yang bisa siketahui oleh semua orang, mereka kan pemimpin kita jadi kita harus menghormati keputusan mereka.
Tulisan ini pandangan pribadi saya, dan saya rasa wibawa pemerintah tidak akan jatuh karena tulisan ini, jatuh apa tidaknya wibawa pemerintah bukan dikarenakan tulisan seperti ini melainkan dari kebijakan-kebijakan yg diambil oleh pemerintah sendiri.