Dalam kehidupan kita pasti ada pasang surutnya, seperti pepatah “basi” yang mengibaratkan kalau hidup ini bagaikan roda, kadang kita berada di atas kadang pula kita berada di bawah. Kawan saya menambahkan pepatah itu menjadi hidup ini bagaikan roda, terkadang kita berada di atas terkadang kita berada di bawah dan menginjak tai pula.huehehe,,,ada benarnya juga.
Disaat kita berada di atas, dunia terasa indah sekali, senyuman pasti menghiasi wajah kita, ramah terhadap sesama tetapi bandingkan di saat kita berada di bawah, dunia terasa menyebalkan, jangan harap senyuman menghiasi wajah kita, menjadi sangat emosional, dan ketidakberuntungan sepertinya tidak mau meniggalkan kita, hal ini semakin membenarkan kata-kata kawan saya, sudah di bawah menginjak tai pula.
Hal-hal seperti ini sangat wajar terjadi pada diri kita dan ini juga sangat alamiah. Justru yang tidak wajar (mungkin ada yang tidak setuju dengan hal ini) adalah jika disaat kita sedang mengalami kebahagiaan dalam hidup sering kali kita menjadi lupa diri, sering kali hati kita dibutakan dengan kebahagiaan itu, sebagai orang yang beragama kita lupa bahwa tanpa bantuanNya ini semua tidak akan mungkin terwujud. Lebih parah lagi disaat kita berada di bawah, kita sering kali merasa bahwa Yang Maha Kuasa tidak adil, menyalahkanNya bahkan melakukan “boikot” dengan tidak beribadah lagi. (Lagi senang aja males beribadah apalagi kalau lagi sedih,huehehehe,,,)
Mengapa kita bisa seperti ini? Hal ini karena kita terlalu banyak menuntutNya seakan-akan kitalah yang mengatur hidup ini, segala sesuatunya harus sesuai dengan keinginan kita. Kita kesal di saat kita dimarahi bos, kesal karena melihat rekan kerja yang cari muka ke bos, kesal karena rekan kerja sok tahu, kesal karena kerjaan menumpuk dikejar deadline, dan masih banyak lagi contoh-contoh di kehidupan yang membuat kita ‘BT’.
Kalimat ini saya kutip dari salah satu artikel:
“Kriteria kesalehan (beragama.pen) seseorang tidak hanya diukur lewat shalatnya. Standar kesalehan (beragama.pen) seseorang tidak melulu dilihat dari banyaknya dia hadir di kebaktian atau misa. Tolok ukur kesalehan(beragama.pen) hakikatnya adalah output sosialnya: kasih sayang sosial, sikap demokratis, cinta kasih, kemesraan dengan orang lain, memberi, membantu sesama. Idealnya, orang beragama itu mesti shalat, misa, atau ikut kebaktian, tetapi juga tidak korupsi dan memiliki perilaku yang santun dan berkasih sayang.”
Kalimat di atas menurut saya dapat menunjukkan bahwa orang beragama itu tidak selamanya beriman. Orang beragama ada kecenderungan hanya melakukan dan sibuk dengan ritual-ritual keagamaannya. Mereka lupa bahwa berbuat baik, menolong orang lain dan bersyukur itu sama pentingnya dengan ritual-ritual lainnya dan inilah yang menurut saya beriman. Bersyukurlah dengan apa yang kita dapat baik yang positif ataupun yang negatif.
Tukul Arwana pernah berkata “dapat yang kecil saja sudah bisa bersyukur apalagi dapat yang besar,,,” Ada lagi yang berkata, “Kasihilah musuhmu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri, kalau kamu hanya mengasihi orang yang mengasihi kamu, apa upahmu di surga?”
Sudah berimankah kita?
-freedom, equality and brotherhood-





nice artikel..
untuk story di atas, gw pernah baca dr buku pinjaman tmn gw yg judulnya “Kristen Rutinitas” (klo ga salah)..
Di buku itu ditulis, kebykan org berpikir dg melakukan dan sibuk dengan ritual-ritual keagamaan sdh bs dikatakan org baik..ga se-simpel itu kalee!! mana kita tau tuj seseorang melakukan semua itu memang unt menjadi baik..?!bs aja kan karena prestise, hare gene gitu..segala sesuatu diperlukan PENGORBANAN berupa PERBUATAN kasih kpd sesama..
Upah apa yg bs diberikan kpd org yg berbuat baik kpd sesamanya yg baik, dibanding berbuat baik kpd sesama yg membencinya..?!Tdkkah lbh mudah berbuat baik kpd yg baik jg..?!
Sudah berimankah kita?
Cheers..
Only 4u Lent