Pasti menjengkelkan sekali kalau kita terjebak macet seperti gambar di atas, apalagi kita sedang terburu-buru, disaat kita sedang menahan emosi karena macet tiba-tiba melihat Transjakarta atau yang lebih populer disebut Busway dengan enaknya saja melaju tanpa hambatan. Mungkin pernah terlintas dipikiran kita kalau gara-gara Busway, Jakarta makin bertambah macet. Mungkin ada benarnya kalau kita berpikiran seperti itu, tapi tidak benar 100% juga. Bayangkan saja di setiap jalan yang kita lalui hampir pasti selalu ada jalur Busway juga. Sudah di kantor stres dengan pekerjaan yang menumpuk dan dikejar deadline, terjebak macet pula pulangnya.
Sudah kurang lebih empat tahun Transjakarta beroperasi hingga saat ini tetapi sepertinya tidak menjadikan kemacetan di Jakarta berkurang melainkan justru semakin memperparah. Dalam hal ini pasti pemerintah sudah memprediksi dampak negatif dari konsep transportasi massal ini, tapi mengapa masalah klasik seperti ini tidak juga ada perbaikan secara signifikan.
Ada tiga masalah penting yang dapat saya coba simpulkan mengapa konsep transportasi massal ini tidak berjalan secara maksimal.
Pertama, penyediaan fasilitasnya belum cukup memadai salah satu contoh adalah minimnya armada yang menyebabkan terjadinya penumpukan penumpang di halte-halte apalagi pada saat jam-jam sibuk, termasuk kenyamanan armadanya yang masih kurang dan masih banyak lagi fasilitas-fasilitas lainnya yang masih minim bahkan terkesan apa adanya.
Kedua, masih belum sterilnya jalur-jalur khusus bis transjakarta dari kendaraan umum atau pribadi (termasuk kendaraan pejabat dengan konvoinya) terutama pada jam-jam sibuk yang mengakibatkan bis-bis transjakarta menjadi tidak beda dengan kendaraan umum lainnya.
Ketiga, peran masyarakat yang masih kurang mendukung dengan konsep transportasi massal ini. Kalau saja masyarakat mau mendukung sepenuhnya, dengan mereka meninggalkan kendaraan pribadinya di rumah dan memanfaatkan Busway pasti tujuan diadakannya Transjakarta ini akan terwujud. Dalam hal ini masyarakat tidak bisa disalahkan juga.
Ini semua kembali lagi kepada pengelola Transjakarta, kalau saja sarana-sarana dapat mereka penuhi semua dan kepuasan penumpang menjadi yang utama maka tidak mustahil Transjakarta menjadi pilihan utama warga Jakarta dalam bertansportasi. Saat ini warga Jakarta lebih memilih kendaraan pribadinya untuk bertransportasi dan tidak terpengaruh dengan adanya 3 in 1 karena masih banyak joki yang bisa dimanfaatkan badannya, mereka lebih memilih taksi karena lebih cepat dan nyaman, mereka lebih memilih kendaraan umum lainnya karena lebih murah, dan masih banyak lagi alasan-alasan lainnya.
Mungkinkah Jakarta bebas dari kemacetan hanya sebuah impian belaka ataukah kita secara bersama-sama bisa mewujudkannya? Only God Knows,,,
-freedom, equality and brotherhood-





Yes, i agree.
Busway yg bikin masalah, biang keladi… Mungkin emang buat kebaikan warga, tapi kenyataannya lain. Warga desak2an n berebut. Ada yang diusilin seperti dicolek lah, atau apa lah. Yang membingungkan, mengapa pemerintah tetap menjalankan proyek ini? Padahal pula, persediaan BBM udah mau abis.
Masa iya, Indonesia mau kembali ke jaman purba? Andaikata, pihak pemerintah tidak korupsi, pasti nyaman tinggal di Indonesia. Ini udah Indonesia banyak utang, tapi pemerintah masih ada yang main korupsi. Lihat di luar negeri, semua teratur dengan rapi, jalanan bersih, bebas macet, jalanan mulus, kita bandingkan dengan Indonesia, masih kalah jauh sepertinya.
BUS FUCK’N WAY
Yang paling gw ga suka dari pembangunan jalur busway adalah menghilangkan sebagian jalur hijau yang ada, padahal jalur hijau yang ada di kota Jakarta tidak memenuhi syarat lahan hijau yang harus tersedia dalam sebuah kota besar..klo mo mengatasi kemacetan di Jakarta bukan lahan hijau yang dipangkas!! tapi kendaraan2 pribadi yang menyumbang polusi terbesar harus dikurangi kuotanya..tapi sayang pemerintah akan lebih memilih meraup keuntungan dari pajak kendaraan yang besar atau rupiah yang mengalir dari kantong – kantong pengusaha industri otomatif ketimbang memberikan udara bersih bagi warganya
Bagaimana caranya mengurangi kuota kendaraan pribadi, bukannya ini hak dari setiap individu? Mungkin bukan kuota yang harus dikurangi tapi pemakaiannya atau bisa juga pajak2 kendaraannya yg hrs ditambah & mdh2an krn pajak yg tinggi dan berkurangnya pemakaian kendaraan pribadi masyarakat menjadi enggan menggunakan atau memiliki kendaraan pribadi.
gimana lagi.. wong busway nya udah jadi ..
makanya.. kayanya kita harus punya banyak duit ya ?
biar kalo macet.. kita pake supir..jadi tetap bisa tidur..
ga usah nyetir .. jadi mendingan pake supir aja..
supir busway..
http://www.adalowongankerja.info
Busway, bagus sih pelayanannya, tapi …. semenjak berganti Pak Gubernur nih uh.. jadi kacauuuu balauu bwanget deh!!!!
Gak ngaruh jg kl pk supir, kita tidur,,,,,pas bangun ttp aja msh di tengah2 kemacetan, bisa2 si supir ikutan tidur.
Gimana neh Bang Foke???
ada busway bukannya malah tambah lancar.. eh malah tambah ancurr!!! hmm.. pemerintah harus putar otak lagi nech…